Tata Cara Memandikan Dan Mengkafani Jenazah

A. Pendahuluan.

Yang sering kita lihat ketika ada orang yang meninggal adalah mengurusinya dengan memandikannya, mengkafaninya dan juga menshalatinya. Namun, dalam prakteknya banyak yang tidak sesuai dengan Syariat. Untuk itu kami tergugah untuk mencoba membahas tata cara memandikan dan mengkafani jenazah dengan mengambil keterangan-keterangan dari kitab salaf yang diajarkan di pesantren.

B. Hukum memandikan dan mengkafani jenazah.

Hukum dari memandikan dan mengkafani jenazah adalah Fardhu kifayah dikarenakan ijma’ (kesepakatan) dari para Ulama dan hadits. Namun, untuk masalah memandikan jenazah ketika alasannya adalah atas kesepakatan para Ulama, itu di tolak dengan adanya perbedaan yang sangat masyhur antara Ulama Madzhab Malikiyyah tentang masalah memandikan jenazah. Bahkan Imam Al-Qurthubiy dalam Syarah Muslim mengunggulkan bahwa sesungguhnya memandikan jenazah adalah Sunnah. Namun, jumhur (kebanyakan) Ulama mewajibkannya (Fardhu kifayah).

Lalu, apakah ketika kita melihat ada mayat yang meninggal karena ia tenggelam di laut, di danau, di sungai atau tempat semisalnya, apakah masih wajib dimandikan? mengingat ketika si mayat meninggal, seluruh badannya¬† telah terkena air. Dalam kitab Mughni Al-Muhtaaj disebutkan bahwa menurut pendapat yang kuat, wajib hukumnya memandikan mayat yang tenggelam, karena kita (umat islam) diperintahkan untuk memandikan jenazah, maka tidak gugur kewajiban memandikan dari kita kecuali dengan kita melakukannya (memandikan jenazah). Bahkan, kalaupun ketika kita melihat malaikat memandikannya, kita masih wajib mengulangi memandikan jenazah tersebut. Berbeda dengan mengkafani, karena maksud dari mengkafani adalah menutupi, maka ketika selain kita (umat islam) yang mengkafaninya, maka tujuan dari mengkafani telah hasil. Adapun tujuan dari memandikan jenazah adalah Ta’abbud.

C. Tata cara memandikan dan mengkafani jenazah.

  1. Memandikan Jenazah.
    Paling sempurna dalam memandikan jenazah adalah menaruh jenazah pada tempat yang sepi dan tertutup dari manusia, dimana tidak ada seorang pun kecuali orang yang memandikan dan orang yang membantunya. Namun, bagi wali dari jenazah boleh untuk datang ketempat jenazah dimandikan, walaupun wali jenazah tersebut tidak memandikannya. Jenazah juga dimandikan di atas papan atau ranjang agar jenazah tidak terkena cipratan air tersebut dan jenazah dimandikan dalam posisi terlentang. Disunnahkan juga jenazah dimandikan dalam balutan gamis karena itu lebih menutupi jenazah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saat jenazahnya dimandikan juga memakai gamis dan ini diriwayatkan oleh Abu Daawud dan lainnya dengan isnad yang Shahih. Sedangkan air yang untuk memandikan jenazah adalah air dingin, kecuali memang membutuhkan air panas untuk menghilangkan kotoran pada jenazah atau karena cuaca dingin. Bagi orang yang memandikan jenazah, hendaknya mendudukkan jenazah pada tempat dimana jenazah dimandikan dan agak dicondongkan sedikit ke belakang supaya gampang mengeluarkan kotoran yang ada di perut jenazah dan yang memandikan meletakkan tangan kanannya di pundak jenazah dan jempolnya ditaruh di lekukan tengkuk dari jenazah, kemudian orang yang memandikan jenazah menyandarkan punggung jenazah pada lututnya yang sebelah kanan dan ia menjalankan tangan kirinya di atas perut jenazah dengan berulang-ulang agar keluar kotoran yang ada di perut jenazah. Kemudian jenazah ditidurkan terlentang dan memandikan bagian kemaluan depan dan belakang jenazah dengan tangan kiri yang mana tangan kiri tersebut dibalut dengan kain, kemudian tangan kiri dibalut dengan kain yang baru setelah membuang kain yang awal. Setelah membersihkan bagian tersebut, kemudian orang yang memandikan memasukkan jarinya (telunjuk) kedalam mulut jenazah dan menggosok gigi jenazah dan juga menghilangkan kotoran-kotoran pada dua lubang hidung, kemudian jenazah diwudhukan seperti wudhunya orang hidup, kemudian kepala jenazah dibasuh, setelah itu jenggotnya dengan daun widara atau semisalnya. Setelah semua itu, anggota tubuh bagian kanan jenazah dimandikan, kemudian anggota tubuh jenazah bagian kiri. Lalu, jenazah dihadapkan ke kiri, diteruskan memandikan sisi bagian kanan jenazah, dari mulai bagian yang dekat dengan tengkuk, dilanjutukan ke punggung sampai telapak kaki. Setelah itu jenazah dihadapkan ke arah kanan dan bagian kiri anggota tubuh jenazah dibasuh sama seperti anggota bagian kanan jenazah.
    Referensi: (Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, juz 1, halaman 450-454)
  2. Tata Cara Mengkafani Jenazah.
    Tata cara membungkusnya adalah dengan menutupi aurat dari jenazah. Dalam masalah ini dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Apabila laki-laki maka yang wajib ditutupi adalah antara pusar dan lutut. Sedangkan untuk perempuan yang wajib ditutupi adalah semua anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan. Pendapat ini adalah pendapat yang di Shahihkan oleh Imam Nawawi yang dinuqil dari Ulama banyak. Alasannya adalah menutup aurat adalah haqqullah. Namun, Ulama lain mengatakan bahwa wajib menutupi semua badan dari jenazah kecuali wajah dan telapak tangan. Ini adalah pendapat yang lebih kuat dan bahkan Imam Syarqowy (pengarang kitab Asy-Syarqowy) mengatakan kalau pendapat Ulama yang mengatakan bahwa yang wajib ditutupi dalam mengkafani jenazah adalah aurat saja adalah pendapat Dhaiif (lemah) karena dalam mengkafani jenazah harus seluruh badannya di tutupi. Lebih lanjut, dalam kitab Al-Muhadzzab disebutkan: “Sesungguhnya menutupi aurat saja tidak dinamakan mengkafani”.
    Adapun jumlah kain yang untuk mengkafani yang sempurna (lebih utama) adalah tiga lapis bagi jenazah laki-laki. Diperbolehkan menambahkan gamis dan sorban dibawah (dalamnya) tiga kain tersebut, karena Abdullah bin Umar telah mengkafani anaknya dengan lima pakaian, yaitu: gamis, sorban dan kain tiga lapis. Adapun untuk jenazah perempuan adalah selendang, gamis, penutup kepala, kemudian dua lapis kain. Disunnahkan dalam mengkafani jenazah menggunakan kain putih. Bagi jenazah perempuan diperbolehkan menggunakan kain sutra dan minyak za’faron
    Referensi: (Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, juz 2, halaman 187-190)

NB: Untuk lebih jelas dan rinci tentang dalil-dalilnya, silahkan buka 2 kitab di atas yang menjadi referensi kami.

D. Penutup.

Demikianlah keterangan tentang masalah tata cara memandikan dan mengkafani jenazah, semoga bermanfaat bagi kita semua. Bantu share dengan memberikan Like, Tweet dan komentar anda di bawah ini. Terima kasih

Tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar