Syarat Dan Rukun Sah Shalat Yang Wajib DiKetahui

A. Pendahuluan.

Sebagai umat Islam, kita wajib melaksanakan Shalat fardhu lima waktu yang telah ditentukan oleh syara’. Dalam shalat,terdapat shalat Sunnah dan fardhu.Tapi, mungkin banyak di antara umat Islam yang awam tidak tahu secara persis ada berapa syarat-syarat dan rukun-rukun dalam shalat.

B. Permasalahan.

  • Apa saja syarat dan rukun sah shalat yang wajib diketahui?

C. Penjelasan.

Syarat-syarat shalat (yang terkhusus pada shalat)

Dalam kitab Mughniy Al-Muhtaaj (kitab yang menghaasyiyah kitab Al-Minhaj), dalam Minhaajnya disebutkan bahwa Syarat shalat ada lima, yaitu:

  1. Mengetahui waktu datangnya shalat secara yakin atau dzon (kira-kira) dengan ijtihad (mencari tahu). Caranya ijtihad bisa dengan melihat jam ataupun mendengar adzan. Bagi orang yang shalat tanpa mau tahu apakah sudah masuk waktu shalat atau belum, maka shalatnya tidak sah walaupun hakikatnya salatnya sudah pas dengan waktunya.
  2. Menghadap kiblat.
  3. Menutupi aurat (ketika bisa), walaupun mushalli (orang yang shalat) tersebut berada dalam tempat yang gelap (tidak terlihat). Syarat ini berdasar atas firman Allah SWT yang berbunyi: “Pakailah pakaianmu ketika masuk setiap masjid.” [Al-A’raf: 13]. Ibnu Abbaas RA berkata: “Yang dimaksudkan dengan ayat adalah pakaian di dalam shalat.
  4. Suci dari hadats.
  5. Suci dari najis yang bukan ma’fu ‘anhu (diampuni)di dalam pakaian, badan dan tempat yang mana mushalli (orang yang shalat) shalat ditempat itu. Maka shalat tidak sah ketika pakaian, badan atau tempatnya terkena najis, walaupun mushalli¬†tidak tahu kalau ia terkena najis. Jadi, apabila mushalli mengetahuinya setelah shalat, maka ia wajib mengulangi shalatnya.
    Sebenarnya masih ada lagi syarat-syarat dalam shalat, seperti: Islam, sudah tamyiiz dan masih ada lagi syarat-syarat yang lain. Namun, Di dalam Minhaaj hanya disebutkan lima. Didalam Hasyah Mughni Al-Muhtaaj dijelaskan mengapa dalam kitab Minhaaj hanya disebutkan lima syarat dalam shalat, yaitu: karena sesungguhnya itu (Islam, tamyiiz dan seterusnya) bukanlah syarat yang hanya terkhusus pada shalat. [Haasyiyaah Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daaru Al-Kutub Al-Ilmiyyah, baerut, Lebanon, juz satu halaman 263-268]

Rukun-rukun Shalat

Di dalam Mughni Al-Muhtaaj disebutkan bahwa rukun Shalat ada tiga belas (lihat kitab Mughni Al-Muhtaaj cetakan Daaru Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz satu, halaman 216), dengan menjadikan tuma’ninah satu rukun dengan ruku’, I’tidaal, sujud, duduk di antara dua sujud (ruku’ dan tuma’ninah dihitung satu rukun, I’tidaal dan tuma’ninah dihitung satu rukun dan seterusnya) . Namun, di dalam kitab At-Tahqiiq dan Ar-Raudhah disebutkan ada tujuh belas, dengan menghitung tuma’ninah sebagai rukun tersendiridi dalam ruku’, I’tidaal, sujud dan duduk di antara dua sujud, sehingga jumlah rukunnya menjadi tujuh belas. Perbedaan jumlah rukun dalam shalat tersebut hanyalah perbedaan dalam segi lafal saja, namun mempunyai makna yang sama. Di dalam kitab At-Tanbih disebutkan bahwa rukun shalat ada delapan belas, dengan menjadikan niat keluar dari shalat (pada saat salam) sebagai rukun. (Mughni Al-Muhtaaj cetakan Daaru Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz satu, halaman 216).

Rukun shalat dalam kitab Al-Minhaaj:

  1. Niat. Hal ini berdasar hadits: “Sesungguhnya amal itu tergantung niat…..
  2. Takbiratul ihram (mengucapkan Allahu Akbar). Mengucapkan Allahu Akbar wajib menggunakan lafal “Allahu Akbar“. Tidak mengapa ditambahkan lafal Al (baca: Allahul akbar) atau menambahkan lafal Al-Jaliil (Allahu Al-Jaliil Akbar). Wajib membarengkan takbiratul ihram dengan niat.
  3. Berdiri dalam shalat bagi yang kuasa berdiri.
  4. Membaca Al-Fatihah dalam tiap-tiap raka’at.
  5. .Rukuk dengan tuma’ninah. Sedikit-sedikitnya rukuk yaitu sekira membungkuk dan kedua tangan dapat menyentuh dengkul
  6. I’tidal dengan tuma’ninah.
  7. Sujud dengan tuma’ninah. Sedikit-sedikitnya sujud adalah menyentuhkan sebagian jidat ketempat sujud dan wajib menekannya dengan kadar kira berat kepalanya (tidak hanya ditempelkan).
  8. Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah. Hal ini berdasarkan hadits: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika mengangkat kepalanya, tidak pernah sujud sampai beliau duduk tegap.” [Hadits ini ada di dalam Ash-Shahihain (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) ]
  9. Membaca tasyahud akhir. Adapun bacaannya dapat dilihat di buku pedoman shalat.
  10. Duduk tasyahhud.
    Membaca Tasyahhud dan duduk Tasyahhud apabila setelahnya sala, maka keduanya adalah rukun shalat.
  11. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
  12. Mengucapkan Salam. Sedikit-dikitnya membaca As-Salamu ‘Alaikum. Menurut pendapat yang lebih kuat diperbolehkan Salamun ‘Alaikum (tanpa AL).
  13. Tertibnya rukun (tertib dari nomor satu sampai nomor tiga belas).

Referensi: Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daaru Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz satu, halaman 216-255)

D. Penutup.

Demikianlah penjelasan tentang syarat dan rukun sah shalat yang wajib diketahui, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz