Rukun-Rukun Dan Syarat-Syarat Wudhu Dalam Islam

Wudhu adalah salah satu syarat untuk kita melaksanakan shalat. Tanpa wudhu, maka shalat kita tidak sah. Maka, wajib bagi kita untuk mengetahui rukun-rukun wudhu, karena dengan kita mengetahuinya, maka wudhu kita akan benar dan sah, sehingga shalat kita pun jadi bisa sah.

B. Permasalahan.

  • Ada berapakah rukun-rukun dan syarat-syarat wudhu dalam Islam yang wajib kita ketahui?

C. Keterangan-keterangan.

Rukun-rukun wudhu.

Dalam Mughni Al-Muhtaaj disebutkan wajib dan fardhu mempunyai makna yang sama. Di dalam kitab-kitab fiqih, dalam bab wudhu, ditulis fardhu Al-Wudhu. maksud dari fardhu tersebut adalah rukun ( lihat Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Darulkutub, baerut, Lebanon, juz 1, halaman 85).

Rukun wudhu dalam I’Anatu Ath-Thaalibiin disebutkan ada enam, yaitu:

  1. Niat fardhu wudhu. Lafalnya antara lain: Aku berniat mendatangi fardhu wudhu atau aku berniat menghilangkan hadats (bagi selain orang yang daimul hadats/beser) atau yang semakna.
  2. Membasuh wajah, berdasarkan ayat: “Maka, basuhlah wajahmu.” [QS. Al-Ma’idah]. Adapun wajah, panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut kepala (umumnya), mentok sampai rahang bawah. Sedangkan lebarnya adalah antara dua kuping. Dan wajib bagi orang yang berwudhu membasuh rambut yang ada di wajah, seperti alis, bulu mata dan lain-lain.
    NB: Wajib membarengkan niat dengan basuhan awal pada wajah. Maka, ketika orang yang berwudhu dan berniat wudhu sebelum membasuh muka, maka wudhunya tidak sah.
  3. Membasuh dua tangan dari ujung jari-jari tangan sampai atas sikut, berdasarkan ayat: “Dan kedua tanganmu sampai sikut.” [Al-Maidah: 6]
  4. Mengusap sebagian kulit kepala atau sebagian rambut walaupun cuma satu helai yang masih dikepala. Apabila mengusap rambut yang berada di luar batas kepala (misal panjang rambut sebahu dan orang yang berwudhu mengusap ujung rambut tersebut), maka belum menggugurkan kewajiban mengusap sebagian sesuatu yang ada di kepala, karena itu di luar batas kepala.
  5. Membasuh kedua kaki dari mulai bawah kaki sampai mata kaki atas.
  6. Tartib (berurutan), dari mulai membasuh muka, tangan dan seterusnya.

Referensi: Haasyiyah I’Anaatu Ath-Thalibiin, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, halaman 64-73.

Syarat-syarat wudhu

Adapun syarat-syarat wudhu itu ada lima, yaitu:

  1. Air mutlak, yaitu sesuatu yang mempunyai nama air tanpa qayyid (batasan nama), seperti air sumur yang bilamana di pindah ke gentong maka ia akan berubah nama menjadi air gentong. Itu yang dinamakan air mutlak. Berbeda dengan air teh yang namanya tidak akan berubah (tetap air teh). Air teh ketika di pindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain, namanya tetap air teh.
  2. Mengalirnya air atas anggota wudhu yang harus di basuh. Maka, ketika hanya diusap saja itu belum mencukupi, karena syaratnya air harus mengalir.
  3. Pada anggota wudhu tidak ada sesuatu yang dapat merubah air wudhu, seperti minyak za’faran. Jadi, ketika pada anggota tubuh kita terdapat semisal minyak za’faran yang dapat merubah air wudhu, maka hal itu belum mencukupi dal hal berwudhu.
  4. Tidak adanya perkara yang menghalangi air wudhu ke anggota wudhu yang dibasuh, seperti tinta dan sebagainya. Di syaratkan lagi tidak adanya kotoran di bawah kuku yang dapat mencegah masuknya air di bawah kuku (seperti tanah yang ada di bawah kuku). Pendapat ini adalah kebalikan dari pendapat kebanyakan Ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Imam Az-Zarkasyi.
  5. Masuknya waktu Shalat bagi daimul hadats (orang yang berhadats terus menerus), seperti orang beser atau darah istihaadhah (mengeluarkan darah kotor tapi bukan darah haid) bagi perempuan. Disyaratkan lagi harus ada dzon (perkiraan) masuknya waktu shalat. Hal itu bisa dengan mendengar adanya Adzan atau yang lainnya.
    Sebenarnya masih ada syarat-syarat wudhu yang belum disebutkan, namun dalam Fathul Mu’in karangan Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami hanya disebutkan lima saja. Namun, dalam Haasyiyah I’anatu Ath-Thalibiin (kitab yang menghasyiyahi kitab fathul mu’in) diterangkan bahwa syarat-syarat wudhu itu ada lima belas, yang dituangkan dalam bentuk nadzom (lihat I’anatu Ath-Thalibiin, cetakan Daarulkutuub, baerut, Lebanon, juz 1, halaman 62)

Referensi: Haasyiyah I’anatu Ath-Thalibiin, cetakan Daarulkutuub, baerut, Lebanon, juz 1, halaman 47-62

Wallahu A’lam

D. Penutup.

Demikianlah penjelasan seputar rukun-rukun dan syarat-syarat wudhu dalam Islam yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz