Puasa Tapi Tidak Shalat, Sahkah Puasanya?

A. Pendahuluan

Kita pasti sudah tahu bahwa banyak orang-orang Islam yang melaksanakan puasa, apalagi puasa ramadhan yang notabenenya adalah puasa yang diwajibkan. Tapi, banyak juga yang berpuasa tidak melaksanakan kewajiban lain, yaitu shalat. Mungkin Anda bertanya-tanya: “Puasa tapi tidak shalat, sahkah puasanya?

Dalam artikel kali ini, saya akan mencoba membantu untuk mengupas tuntas tentang permasalahan orang yang berpuasa tapi tidak melaksanakan shalat. Semoga artikel kami dapat bermanfaat bagi kita semua.

B. Hukum Puasa Tapi Tidak Shalat

Untuk mengetahui sah tidaknya puasa, kita harus mengetahui terlebih dahulu rukun dan syarat dari rukun puasa tersebut serta perkara yang membatalkan Shalat.

Adapun rukun dari puasa adalah: Niat di dalam hati

Sedangkan syarat dari fardhunya puasa yaitu:

  1. Melakukan niat puasanya pada malam hari antara waktu hilangnya matahari dan keluarnya fajar shidiq.
  2. menyatakan (dalam hati) puasa apa yang diniati, misalnya puasa bulan ramadhan, nadzar atau kafarat. Sehingga tidak cukup hanya dengan niat puasa saja tanpa menyatakan puasa apa yang akan dilakukan.

Perkara yang dapat membatalkan puasa

  1. Melakukan hubungan suami istri;
  2. Berusaha mengeluarkan mani entah dengan apapun;
  3. Muntah dengan sengaja;
  4. Masuknya benda ke dalam tubuh (jauf), seperti benda yang masuk ke dalam telinga, lubang pembuangan air seni walupun tidak sampai ke hasyafah (kepala kemaluan) dan lubang air susu ibu (putting),
  5. Masuknya jari tangannya wanita yang sedang beristinjak melebihi sesuatu dari kemaluannya yang terlihat ketika sedang jongkok, masuknya ruas/patahan jari ke dalam tempat keluarnya kotoran (tinja), dengan catatan semua itu dilakukan secara sengaja, tanpa adanya paksaan dan ia tahu bahwa itu adalah perkara yang membatalkan puasa.

Dari rukun, syarat rukun dan perkara yang membatalkan puasa tersebut, dapat kita ketahui bahwa puasanya orang yang tidak melaksanakan shalat (fardhu) tidaklah batal. Tapi, apakah orang tersebut dapat mendapatkan pahala dari puasa tersebut? Mari kita simak suatu kasus di bawah ini:

Di dalam kitab Haasyiyyah I’Aanatu Al-Thaalibiin dalam bab puasa dijelaskan bahwa menjaga mulut (ucapan) dari hal-hal yang diharamkan seperti berbohong, mengumpat adalah sunnah muakkad bagi orang yang melaksanakan puasa. Sehingga orang yang tidak dapat menjaga ucapannya, maka ia akan kehilangan pahala puasanya. Namun, dari sisi yang lain, menjaga mulut dari perkara yang diharamkan tetaplah wajibkarena secara umum memang kita diperintahkan untuk menjaga mulut atau perkataan kita dari perkara yang diharamkan oleh syara’, sehingga bagi orang yang berpuasa, ketika ia bisa menjaga mulutnya dari perkara atau perkataan yang diharamkan, maka ia akan mendapatkan dua pahala, yaitu:

  1. Pahala wajib, yaitu pahala yang didapatkan karena setiap muslim memang wajib menjaga mulut dari perkara yang diharamkan dan
  2. Pahala sunnah, yaitu pahala yang didapatkan karena dalam berpuasa kita lebih disunnahkan untuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang mendatangkan madharat.

Adapun alasan ulama’ menggunakan kata sunnah (muakkad) bagi orang yang berpuasa untuk menjaga mulut dari perkara yang diharamkan, itu bertujuan untuk mengingatkan bahwa orang yang berpuasa ketika melakukan perkara yang diharamkan tidaklah membatalkan asli puasanya Karena, apabila menggunakan kata wajib (bagi orang yang berpuasa wajib menjaga mulutnya dari perkara yang diharamkan), maka akan menimbulkan kesalahpahaman bahwa ketika orang berpuasa melakukan perkara yang diharamkan maka akan membatalkan puasanya.

C. Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa puasanya orang yang meninggalkan shalat (fardhu) tetaplah sah dengan catatan telah memenuhi rukun puasa dan juga syarat-syarat dari rukun puasa tersebut, serta tidak melakukan perkara yang membatalkan puasa contohnya seperti yang telah disebutkan di atas.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang puasa tidak shalat, sahkah puasanya?”, semoga bermanfaat. Apabila teman-teman kurang jelas bisa ditanyakan langsung kepada kami atau lebih jelasnya lagi buka kitab yang telah menjadi bahan referensi kami. Bantu share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini agar menjadi referensi bagi teman-teman jejaring sosial anda. Terima kasih

Referensi:

  • Haasyiyyah I’aanatu Al-Thaalibiin, cetakan Darul Kutub juz 2 Bab Puasa.
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz