Makanan Halal Dan Haram Dalam Islam

A. Pendahuluan.

Kita tidak bisa lepas dari makan dan minum. Namun, kita juga tidak boleh asal makan dan minum sembarangan. Kita juga harus memperhatikan asupan makanan dan minuman kita, dalam artian kita harus berhati-hati tentang masalah ketentuan halal dan haramnya makanan dan minuman yang kita konsumsi menurut Islam. Berikut ini adalah keterangan-keterangan masalah yang menerangkan tentang  makanan yang halal dimakan dan diminum, serta sesuatu yang haram untuk dimakan dan diminum.

B. Penjelasan-penjelasan.

Penjelasan tentang makanan halal dan haram dalam Islam beserta dalilnya:

  • Hewan yang hidup di air:

Mengetahui hukum halal dan haramnya makanan dan minuman sangat penting sekali, karena di dalam memperoleh makanan dan minuman yang haram terdapat ancaman yang keras. Di dalam hadits disebutkan: “Apapun daging yang tumbuh dari perkara yang haram, maka neraka lebih utama untuknya.

 

Semua hewan al-Bahri (hewan yang hidup di air) hukumnya adalah halal, bagaimanapun cara matinya, Entah itu berupa ikan atau tidak, seperti anjing laut. Hal ini berdasarkan atas keumuman firman Allah SWT yang berbunyi: “Dihalalkan kepada kalian beburuan laut dan memakannya.” [QS. Al-Ma’idah: 96]. Namun, tentang masalah  hewan Al-Bahri (hewan yang hidup di air) yang tidak berbentuk seperti umumnya ikan, ada pendapat yang mengharamkannya, dengan alasan hewan tersebut tidak bisa dinamakan ikan. Ada juga pendapat yang mengatakan: “Apabila hewan Al-Bahri tersebut tidak seperti bentuk ikan pada umumnya, maka apabila bentuknya seperti hewan yang ada di darat, maka halal untuk dimakan dalam keadaan mati. Namun, apabila hewan tersebut tidak mirip dengan hewan yang hidup di darat, maka haram untuk dimakan.

Bahkan dalam bab shoid (berburu) dan dzabaa’ih (sembelihan) telah diterangkan bahwa , menelan ikan yang masih hidup pun hukumnya tetap halal. Namun, yang harus kita ketahui adalah jangan memakan ikan yang mati, yang keluar dari dalam perut ikan lain, ketika ikan yang di dalam perut ikan lain tersebut telah berubah (seperti sudah hancur), karena ikan tersebut dihukumi sebagai muntahan bukan ikan lagi.

NB: Maksud dari hewan Al-Bahri adalah: Sesuatu yang tidak bisa hidup selain di air. Yang perlu anda ketahui agar anda tidak bingung tentang masalah di atas adalah: hewan Al-Bahri dalam kitab fiqih hanya dibagi menjadi satu, yaitu As-Samak (ikan). Jadi, apapun bentuk dan namanya hewan Al-Bahri, ia tetap dinamakan As-Samak.

Fai’datun: “Diceritakan oleh Ibnu Umar RA, Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wa Sallam bersabda:  Sesungguhnya Allah telah menciptakan seribu umat di bumi. Enam ratus di dalam air dan empat ratus di darat.”

Referensi: (Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, juz 4, halaman 343-344)

  • Hewan yang hidup di darat:

Adapun hewan yang hidup di darat yang halal untuk dimakan adalah hewan Al-An’am. Yang dimaksud dengan hewan Al-An’am adalah unta, sapi dan kambing. Hewan lain yang boleh dimakan antara lain adalah sapi liar dan himar liar, kelinci, sammuur (Binatang yang mirip dengan kucing) dan masih banyak lagi hewan-hewan yang lain yang halal untuk dimakan. Untuk mengetahui hewan apa saja yang halal dimakan, maka kita juga harus mengetahui ciri-ciri binatang yang haram untuk dimakan. Berikut ini adalah penjelasannya:

Baghl (bekhol) dan himaar peliharaan haram untuk dimakan, karena adanya An-Nahyu (pencegahan) dari makan baghl dan himaar di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daawud dengan sanad dari perawi Imam Muslim (masalah baghl) dan adanya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhaani (Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Hewan lain yang diharamkan adalah hewan yang mempunyai taring yang mana taring tersebut digunakan untuk memangsa, seperti harimau dan burung yang mempunyai kuku untuk memangsa, seperti elang.

Diharamkan lagi mengkonsumsi hewan yang disunnahkan untuk dibunuh (seperti ular, tikus dan kalajengking) dan setiap hewan liar yang membahayakan.

Adapun bagi orang yang khawatir meninggal karena tidak ada makanan halal, maka boleh baginya untuk memakan perkara yang diharamkan. namun bukan berarti kita terus makan sampai puas, akan tetapi  hanya sekedar menjaga nyawanya tetap selamat, bukan untuk mencari kenyang. Bahkan bagi orang yang tidak menemukan makanan lain selain mayat manusia, boleh baginya untuk memakannya, kecuali mayit tersebut seorang Nabi. Adapun cara makan mayat yang berupa orang adalah tidak boleh dimasak atau dibakar, karena akan merusak kehormatan sang mayat.

Referensi: (Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, Juz 4, halaman 344-355)

C. Penutup.

Demikianlah seputar masalah makanan halal dan haram dalam Islam, semoga bermanfaat. Bila berkenan, share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *