Hukum Selamatan Orang Meninggal Menurut Islam

A. Pendahuluan.

Biasanya kita sering melihat orang-orang berkumpul di suatu tempat dan melaksanakan Tahlilan dan ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh kyiai sepuh tempat itu. Biasanya itu adalah acara untuk selamatan orang yang meninggal atau mati agar dosa-dosanya di ampuni oleh Allah SWT. Mereka berkumpul dan melakukan dzikir dan do’a, yang dzikir dan doa tersebut dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal.

B. Permasalahan.

  • Bagaimanakah hukum selamatan orang meninggal menurut Islam?

C. Penjelasan.

Selamatan adalah suatu tradisi yang sudah mengakar di masyarakat kita Indonesia, terutama bagi pengikut NU (Nahdhatul Ulama’). Tidak semua Bid’ah itu bersifat Dhalalah (sesat). Janganlah kita hanya melihat sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam dari teksnya saja, tapi lihat juga maksud dari hadits tersebut, sebab turunnya bagaimana. Jadi jangan dimakan mentah-mentah. Imam Syafi’i tidak memukul rata bahwa bid’ah itu semua dhalalah. Bahkan beliau membagi Bid’ah menjadi dua, yaitu: Bid’ah hasanah dan Bid’ah sayyi’ah (jelek). Padahal beliau adalah salah satu seorang mujtahid mutlak dan beliau pun tahu hadits yang menerangkan bahwa setiap bid’ah itu dhalalah. Bahkan Imam Al-Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam  belum mempunyai derajat Mujtahid mutlak. Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’i yang pendapat beliau-beliau dalam fiqih menjadi rujukan juga belum sampai tingkatan tersebut (mujtahid mutlak). Dalam selamatan terdapat Tahlilan yang berisi dzikir, doa dan puji-pujian kepada Allah.Apakah kita masih berani mengatakan itu Bid’ah Dhalalah yang diharamkan karena gara-gara kita berkumpul bersama untuk dzikir? Bukankah kita disuruh untuk selalu berdzikir? Allah berfirman: “Ingatlah Aku (Allah), maka aku akan mengingatmu”.  Kita pun sudah tahu kalau kita disuruh untuk selalu berdzikir dimanapun kita berada, apalagi bersama-sama dalam satu majlis.

Apakah masalah makanan yang disajikan saat melaksanakan selamatan juga bid’ah yang menyesatkan?

Kami belum pernah menemukan apakah itu bid’ah atau tidak. Namun, ketika itu bid’ah, itu bukanlah bid,ah yang sesat.  apakah ketika yang punya hajat mengadakan acara selamatan tersebut menghidangkan makanan dan minuman yang tentunya mereka tidak mungkin mengeluarkan makanan dan minuman tanpa ada tujuan? kami yakin tujuan yang punya hajat tersebut baik, yaitu shadaqah yang mana shadaqah itu dihadiahkan kepada sang mayyit. Tidak mungkin mereka membuang harta mereka (untuk membeli makanan) tanpa mengharap imbalan (pahala atau murni karena Allah). Bukankah kita disuruh untuk melakukan shadaqah? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya (shadaqah) dengan sebutir kurma.” [Muttafaqun ‘Alaihi].

Wallahu A’lam

D. Penutup.

Demikianlah ulasan seputar hukum selamatan orang meninggal menurut Islam, semoga bermanfaat. Share artikel kami dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar bermanfaat dan menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hukum Selamatan Orang Meninggal Menurut Islam

  1. Anonymous says:

    kurang………

  2. eko says:

    sekali bid’ah tetap bid’ah(tidak ada tutunannya dari Rasulullah Saw)
    apakah yg meng_ada-ada kan yg baru lebih pinter daripada Rasulullah….?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *