Hukum Mentalak Istri Yang Sedang Haid Atau Hamil

A. Pendahuluan.

Orang-orang yang berumah tangga, pasti menginginkan rumah tangganya harmonis. Namun, namanya rumah tangga tidak lepas dari yang namanya pertengkaran dan lain sebagainya. Kalau tidak pandai-pandai dalam bersikap, bukan tidak mungkin berujung dengan perceraian. Bagi seorang suami, berhati-hatilah dalam menjaga perkataan, terutama saat sedang marah atau emosi, karena saat sedang bertengkar dengan istri, bukan tidak mungkin suami akan dengan mudah mengatakan talak atau cerai kepada istrinya karena sedang emosi atau marah-marah. Banyak suami yang menceraikan istri karena emosi yang tak terkontrol.

B. Permasalahan.

  • Bagaimana hukum mentalak istri yang sedang haid atau hamil?

C. Dalil-dalil.

Talak dibagi menjadi dua, yaitu:

Talak sunah: Talak yang dijatuhkan pada saat istri sedang masa suci.

Talak Bid’ah: Talak yang dijatuhkan pada saat istri sedang masa haid atau nifas sebelum digauli.

Dalam permasalahan yang sedang kita bahas, yaitu mentalak istri saat nifas atau haid, maka permasalahan di atas disebut dengan talak bid’ah. Sayyid Sabiq mengatakan bahwa:” Para Ulama sepakat bahwa talak bid’ah hukumnya adalah haram dan pelakunya berdosa.” [Fiqih sunnah, 2: 265].

Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Muyasarah dikatakan:”Adapun mentalak istri dalam tingkah haid hukumnya adalah haram dengan berdasarka Al-Kitab (Al-Quran) dan Sunnah dan ijma’ (kesepakatan para Ulama). Di dalam keharaman talak dalam masa haid tidak ada pertentangan antara Ulama.” [Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyasarah].

Lalu, bagaimana hukum talaknya (talak bid’ah)? apakah sah atau tidak?

Mayoritas Ulama mengatakan bahwa talaknya adalah sah. Akan tetapi, suami diperintahkan untuk merujuk istrinya sampai suci kembali, kemudian haid lagi untuk kedua kalinya dan suci lagi. Setelah itu bagi suami boleh mentalak atau menceraikannya kembali. Pendapat ini sama dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, beliau mengatakan pernah mentalak istrinya ketika haid pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ayahnya, Umar bin Khattab RA menanyakan kejadian itu kepada beliau SAW. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan ia (IBnu Umar) kemudian rujuklah istrinya. Lalu, tahanlah istrinya sampai suci, lalu haid lagi, lalu suci lagi. Lalu, ketika ia (Ibnu Umar) mau, ia bisa mempertahankan istrinya setelahnya.Dan apabila ia mau, ia bisa menceraikan istrinya sebelum disetubuhi.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Adapun mentalak istri saat sedang hamil, maka hukumnya boleh, berdasarkan hadits:

  • “Tolaklah istrimu saat masa suci atau saat hamil” [HR. Ahmad dan Muslim]

D. Kesimpulan.

Hukum mentalak istriĀ  yang sedang haid atau hamil adalah: Apabila sedang haid, maka haram. Apabila sedang hamil maka boleh.

Wallahu A’lam

Tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *