Hukum Makan Kepiting Dan Bekicot Dalam Islam

A. Pendahuluan.

Sering kita temui di warung warung lesehan, bahkan di restoran menyediakan makanan dengan lauk kepiting. Banyak orang yang suka dengan makanan satu ini. Ada juga penjual makanan yang menjual bekicot, dan bahkan laris manis dikalangan masyarakat. Mereka sepaerti tidak peduli dengan halal atau haram makanan yang satu ini. Bahkan ada yang mendengar kalo bekicot, yang juga biasa di sebut siput, itu haram, tapi mereka masih saja memakannya. Mereka hanya mementingkan perut mereka tanpa memandang apakah makanan itu haram atau tidak. Para penjual pun masa bodoh dengan itu semua. Yang ada dipikiran mereka yang penting dagangan laris.

B. Permasalahan.

Bagaimana hukum makan kepiting dan bekicot dalam Islam?

C. Dalil dan pendapat para Ulama.

Rasulullah SAW bersabda: “Laut itu suci airnya, halal juga bangkainya“. [HR. Turmudzi].

Dari hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa semua binatang yang ada di laut itu halal, walaupun binatang tersebut sudah mati. Menurut Majlelis Ulama Indonesia (MUI), kepiting dan ranjungan adalah hewan yang habitatnya dari air laut. Tadi sudah kita ketahui bahwa hukum binatang laut adalah halal untuk di makan.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa hukum memakan kepiting adalah halal menurut MUI. Begitu juga dengan hewan tutut. Hewan yang sejenis dengan kepiting. Asrarun Niam, Sekretaris komisi Fatwa MUI mengatakan “Tutut itu masuk dalam kategori hewan air, itu boleh, karena habitatnya asalnya dari air.

Namun, Syekh Abu Hamid dan Imam Haramain memasukkan (haram) katak dan ketam (sejenis kepiting). Dua hewan tersebut diharamkan menurut ketetapan madzhab yang Shahih. Mayoritas Ulama juga mengacu pada pendapat ini. Ada pendapat Dhaif yang diceritakan dari Imam Al Baghawi, yang bersumber dari Imam Al Halimi, yang mengatakan bahwa ke dua hewan ini halal. [Al Majmu’ Syarah Muhadzzab].

Menurut Imam Ahmad Bin Hanbal, kepiting boleh dikonsumsi karena sebagai binatang laut yang bisa hidup di darat. karena kepiting tidak mempunyai darah, maka untuk menyembelihnya tidak perlu di sembelih. [Al Mughni, jilid 8, halaman 606.

Sedangkan hukum memakan bekicot, menurut Asrarun (Sekretaris Fatwa MUI), hukumnya adalah haram. “Hukum memakan bekicotĀ  adalah haram”, ujarnya waktu itu (20/3/2013) seperti di lansir detik.com.

D. Kesimpulan.

Terjadi perbedaan pendapat antar para Ulama. Syekh Abu Hamid dan Imam Haramain mengatakan kepiting adalah haram. Sedangkan menurut Imam Ahmad Bin Hanbal adalah boleh, dengan alasan kepiting adalah binatang laut. Telah kita singgung di atas bahwa, semua Hewan laut halal, walaupun itu adalah bangkainya. Adapun MUI memutuskan bahwa kepiting adalah halal. Adapun bekicot, menurut MUI yang disampaikan oleh Asrarun niam, adalah haram. Itulah kesimpulan tentang hukum memakan kepiting dan bekicot menurut Syariat Islam.

Demikianlah artikel kami tentang masalah Hukum Makan Kepiting Dan Bekicot Dalam Islam. Semoga bermanfaat. Apabila anda suka, mohon share dengan cara Like, Tweet, atau meninggalkan komentar anda di bawah ini, agar bisa jadi referensi bagi teman teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Klik untuk share:
Tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

2 Comments on "Hukum Makan Kepiting Dan Bekicot Dalam Islam"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Bagal
Guest

Gan Ane Mau Tanya Yang Syeikh Abu Hamid Itu Nama Panjangnya siapa?…Tolog secepatnya Lagii ada materi tentang kepiting

Sang Awam
Guest

Jika Kepiting itu benar-benar hidup di air laut, air tawar , atau pertemuan air laut dan air tawar ?
Kalo semua binatang yang hidup di air laut itu mutlak “HALAL” , Lalu bagaimana dg “ULAR” , ANJING LAUT , SINGA LAUT ?
Buatlah keputusan yg “ADIL”….

wpDiscuz