Hukum, Doa dan Tata Cara Shalat Jenazah Lengkap

A. Pendahuluan.

Sudah kita ketahui bersama bahwasanya dalam islam, apabila ada orang islam yang meninggal, maka ia akan di shalati. Dari yang saya ketahui, banyak orang yang masih bingung tentang tata cara shalatnya dan juga bacaannya. Semisal setelah takbir yang pertama apa yang harus di baca dan seterusnya sampai takbir ke empat. Untuk itu kami tergugah untuk membahas masalah hukum shalat jenazah beserta rukun-rukunnya, dengan tujuan agar bermanfaat bagi kita semua dan menjadi amal yang baik bagi kami, amien.

B. Pembahasan.

a). Hukum Shalat jenazah

Hukum shalat jenazah (selain orang yang mati syahid) adalah fardhu kifayah. shalat jenazah tersebut pertama kali di syariatkan di madinah. Ada pendapat yang mengatakan bahwa shalat jenazah adalah khususiah bagi umat nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Namun pendapat ini perlu direnungkan lagi, dikarenakan adanya hadits yang diriwayatkan oleh ulama banyak dari sanad yang hasan dan di shahihkan oleh imam Al Hakim. Di dalam hadits tersebut diterangkan bahwa Nabi Adam ‘Alaihi As Salam ketika beliau akan meninggal, datanglah para malaikat dengan membawa wewangian hanuut dan kain kafan dari surga. Maka, ketika nabi Adam ‘Alaihi As Salaam meninggal, para malaikat memandikannya dengan air dan daun As Sidru tiga kali. Yang ketiga dicampur dengan kapur. para malaikat mengkafaninya di dalam  pakaian yang ganjil dan para malaikat menggali liang lahat dan mereka menshalati beliau (Nabi Adam ‘Alaihi As Salaam). Kemudian para malaikat berseru kepada anak Nabi Adam ‘Alaihi As Salaam: “Ini (memandikan dan seterusnya) adalah sunnah anak adam setelah Nabi Adam ‘Alaihi As Salaam.” Di dalam riwayat lain dikatakan: “Wahai bani adam, ini adalah sunnah kalian setelah nabi Adam ‘Alaihi Wa Sallam, maka lakukanlah.”
Dari keterangan hadits di atas, menjadi jelas bahwa sesungguhnya memandikan jenazah, mengkafani, menshalati, menguburkan, daun As Sidru, wewangian hanuut, kapur, pakaian yang ganjil, liang lahat itu sudah ada pada zaman Nabi Adam ‘Alaihi As Salaam. Jadi, memandikan jenazah bukanlah khususiah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

b). Rukun dan Tata Cara shalat jenazah
Rukun shalat jenazah ada tujuh. Berikut adalah rukun dan tata cara shalat jenazah:

  1. Niat seperti niatnya shalat 5 waktu, seperti bersamaannya niat dengan mengucapkan takbiratul ihraam dan juga dalam niat mengucapkan fardhu seperti:
    Ushalli ‘Ala Hadza Al -Mayyit Fardhon Lillahi Ta’Alaa.
    Yang perlu di ingat bahwasanya niat tempatnya berada di hati. Adapun melafalkannya (mengucapkannya dengan mulut) adalah sunnah.
  2. Berdiri bagi yang bisa berdiri. Adapun bagi yang tidak kuasa untuk berdiri, maka bisa duduk. Apabila tidak bisa duduk, maka diperbolehkan tidur miring dengan menghadap ke arah kanan. apabila tidak bisa menghadap arah kanan, maka boleh ke arah kiri. Apabila tidak bisa, maka boleh dengan tidur terlentang. Apabila masih belum bisa shalat dengan cara di atas, maka boleh melakukan rukun shalat jenazah dengan bahasa isyarat. Apabila masih belum bisa juga, maka boleh melakukan rukun shalat jenazah di dalam hati.
  3. 4 takbir disertai takbiratu At-Taharrum. Di dalam takbir, disunnahkan mengangkat kedua tangan setinggi bahu dan meletakkan kedua tangan di bawah dada.
  4. Setelah takbir pertama: Membaca Al-Fatihah.
  5. Setelah takbir kedua: Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
  6. Setelah takbir ketiga: Berdoa untuk mayyit setelah tabir yang ketiga secara khusus, seperti Allahummagh fir lahu (jika mayyit laki-laki) atau lahaa (jika mayyit perempuan).
  7. Setelah takbir yang ke empat: Salam. Setelah takbir yang ke empat, tidak ada kewajiban yang lain selain salam, namun disunnahkan membaca Allahumma Laa Tahrimnaa Ajrahu/Haa Wa Laa Taftinnaa Ba’dahu/Haa Waghfir Lanaa Wa Lahu/Haa.

Adapun doa shalat jenazah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi sebagai berikut:

“Allahumma Ighfir Lahu/Haa Wa Irhamhu/haa Wa’fu anhu/haa Wa ‘Aaafihi, Wa Akrim Nuzulahu/haa Wa Wassi’ Madghalahu/haa Wa Ighsilhu/haa bi Al- Ma’i Wa Ats- Tsalji Wa Al- Barodi Wa Naqqihi Min Al- Khotoyaa Kamaa Ats- Tsaub Al- Abyadhi Min Al- Danasi Wa Abdilhu/haa Daaron Khoiron Min Daarihi/haa Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi/haa Wa Zaujan Khoiron Min Zaujihi/haa Wa Adkhilhu/haa Al- Jannata Wa A’idzhu/haa Min ‘Adzabi Al- Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzabi An- Naar.

Semua referensi: kitab “I’Aanatu Ath- Thalbiin, cetakan Daarulkutub, Juz 2, halaman 206-212”

 

C. Penutup.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang hukum shalat jenazah dan rukun-rukunnya. Share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar bermanfaat bagi teman jejaring sosial anda, terima kasih.

Klik untuk share:
Tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz