Fardhu Dan Perkara Yang Mewajibkan Mandi Jinabat

A. Pendahuluan.

Agar Shalat kita sah menurut hukum Islam, salah satunya adalah suci dari hadas, entah itu hadas kecil maupun besar. Cara menghilangkan hadas kecil adalah dengan berwudhu atau tayamum bila tidak ada air atau ada udzur syar’i (Alasan yang dibenarkan menurut syara’, seperti bisa berwudhu namun takut bila terkena air akan membahayakan). Adapun cara menghilangkan hadas besar ialah dengan mandi besar hingga seluruh anggota badan terbasuh air. Lalu, apa sajakah fardhu dan perkara yang mewajibkan mandi jinabat dalam Islam?

B. Penjelasan.

Pengertian:

Al-Ghuslu (membasuh), menurut cara lughot (bahasa), adalah mengalirnya air atas (kepada) sesuatu. Sedangkan menurut Syara’ adalah: “Mengalirnya air kepada seluruh badan dengan diniati (niat mandi jinabat). Mengalirnya air tidak disyaratkan harus dengan fi’lu Al-Fa’il (ada yang melakukan mengalirkan air), yang terpenting adalah air mengalir sendiri tanpa dialirkan ke seluruh anggota tubuh yang wajib dimandikan ketika mandi jinabat.

Perkara yang mewajibkan mandi jinabat:

  1. Keluarnya air mani dan air maninya itu air mani milik sendiri pada awal yang pertama.
    Jika air maninya bukan air mani sendiri, maka itu tidak mewajibkan mandi, seperti wanita yang berhubungan lewat dubur (jalan belakang), lalu saat ia telah mandi jinabat keluarlah air mani suaminya dari dubur si wanita itu. Bagi wanita tersebut tidak wajib mandi jinabat karena disebabkan keluarnya mani milik suami.
    Dan disyaratkan lagi keluarnya mani itu pada awal yang pertama, dalam artian jika ada orang mengeluarkan air mani lalu ia berusaha memasukkannya lagi setelah air maninya keluar, lalu ia mengeluarkan air maninya yang telah ia masukkan, maka keluarnya air mani yang kedua tidak mewajibkan mandi jinabat.
  2. Masuknya hasyafah (kepala kemaluan laki-laki) ke dalam farji (kemaluan wanita) walaupun mayit ataupunĀ  itu kemaluan binatang seperti ikan.
    Bagi mayit yang sudah dimandikan lalu digauli tidak perlu dimandikan lagi, karena mayit sudah tidak tertaklif (terbebani hukum-hukum Islam seperti shalat dan ibadah yang lain sebab matinya).
  3. Selesainya haid.
  4. Sebab nifas.
    Diwajibkan lagi bagi orang yang melahirkan walupun di saat melahirkan tidak basah atau hanya keluar darah kental ataupun daging kental (keluar tapi tidak jadi bayi hanya berupa darah atau daging kental). Juga diwajibkan memandikan orang meninggal yang bukan mati syahid.

Fardhu (rukun) mandi jinabat:

Fardhu mandi jinabat atau junub ada dua, yaitu:

  1. Niat menghilangkan jinabat (menghilangkan hukum jinabat), atau niyat melakukan fardhu Al-Ghuslu.
    Dalam hal ini, tidak mencukupi hanya berniat mandi saja (misal aku niat mandi). Hal ini karena untuk membedakan adat (mandi biasa) dengan ibadah (mandi besar).
    Dalam niat wajib membarengkan niat dengan awal membasuh badan saat mandi besar.
  2. Meratakan air suci dan mensucikan ke semua badan, bahkan anggota kuku dan yang ada di bawah kuku dan rambut walupun rambutnya tebal dan lainnya.

Referensi: (I’anaatu Ath-Thaalibiin, cetakan Darulkutub, Baerut, Lebanon, Juz 1, halaman 121-131)

C. Penutup.

Demikianlah ulasan tentang masalah fardhu dan perkara yang mewajibkan mandi jinabat, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau memberikan komentar anda di bawah ini, agar menjadi rujukan bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Klik untuk share:
Tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz