Cara Menghitung Zakat Mal (Harta Benda) Dan Profesi

Zakat adalah salah satu dari rukun Islam. Begitu pentingnya zakat, hingga Allah telah mengabadikannya dalam Al-qur’an: “Dan dirikanlah zakat dan tunaikan zakat”. [QS. Al-Baqarah: 43].

A. Zakat Mal

Salah satu bentuk dari zakat adalah zakat mal. Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta benda yang dimiliki oleh individu dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan syara’. Beberapa harta yang termasuk dalam kategori zakat mal antara lain:

  1. Zakat emas
    Nishab (jumlah minimal sehingga wajib zakat) dari emas adalah 20 dinar atau sama dengan 85 gram emas murni. Nishab tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda:

    “Jika kamu memiliki 200 dirham dan telah berlalu satu tahun, maka wajib mengeluarkan zakat sebanyak 5 dirham. Kamu tidak mempunyai kewajiban apa-apa sampai kamu mempunyai 20 dinar dan telah sampai satu tahun. Dan kamu harus berzakat sebesar setengah dinar. Jika lebih maka dihitung kelebihannya. Dan tidak ada zakat pada harta sampai waktu satu tahun.” [HR. Abu Dawud].

    Apabila kita telah mempunyai emas murni seberat minimal 85 gram dan telah mencapai haul (1 tahun), maka kita telah diwajibkan untuk berzakat. Caranya adalah dengan mengambil 2,5% dari total emas yang kita miliki yang telah mencapai nisab tersebut.
    Note: yang dihitung 85 gram adalah emas murni. Jadi, ketika kita mempunyai emas 85 gram tapi berat tersebut merupakan campuran dengan bahan lain, maka tidak wajib zakat emas.

    Contoh:
    Ibu Ulfa mempunyai emas murni 100 gram. Dengan begitu, berarti ibu Ulfa telah wajib membayar zakat emas karena telah mencapai batas nishab, bahkan lebih. Cara penghitungannya adalah 100 x 2,5% = 2,5. Jadi ibu ulfa berkewajiban mengeluarkan zakat emas sebesar 2,5 gram.

  2. Zakat Perak
    Nishab dari perak adalah 200 dirham atau sama dengan 595 gram. Jadi, ketika kita mempunyai perak seberat 595 gram atau lebih, maka kita wajib mengeluarkan zakat perak. Zakat yang dikeluarkan adalah 2,5% dari perak yang kita miliki.Contoh:
    Ibu ulfa mempunyai perak seberat 600 gram. Dikarenakan telah melebihi nishab, maka ibu ulfa wajib membayar zakat perak. Cara menghitungnya adalah: 600 x 2,5 % = 15. Jadi, perak yang harus dizakatkan oleh ibu ulfa adalah 15 gram.
  3. Zakat Tabungan.
    Zakat tabungan baik itu berupa deposito maupun jenis tabungan lain yang telah mengendap selama 1 tahun di bank dan telah mencapai nisab juga dikenakan wajib zakat. Cara perhitungannya adalah sama dengan ketentuan zakat emas. Jika harga emas saat ini adalah Rp.500.000,-/gram, maka nisab minimal zakat mal berupa tabungan adalah sebesar Rp.42.500.000,-.
    Artinya jika Anda memiliki uang di tabungan sebesar 50 juta selama 1 tahun misalnya, maka Anda harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5% x 50 juta = Rp. 1.250.000,-

B. Zakat Pertanian

Nishab zakat pertanian adalah 5 wasaq berdasarkan hadits Rasulullah saw:

“Zakat itu tidak kurang dari 5 wasaq”. [ Muttafaqun ‘Alaih]

1 wasaq = 60 sha’. Sedangkan satu sha’ setara dengan 2,175 kg. Jadi, 5 wasaq adalah: 5 x 60 = 300 sha’. Berarti nisabnya adalah: 300 x 2,175 kg= 652,8 kg. [Fathul Bari: 3/364]

Dalam menghitung zakat pertanian, kita juga harus mempertimbangkan sistem pengairannya karena perhitungannya berbeda. Jika sistem pengairannya menggunakan air hujan (sawah tadah hujan), maka zakat yang dikeluarkan lebih banyak, yaitu sebesar 10% dari total hasil panennya. Sedangkan jika menggunakan sistem irigasi yang tidak mengandalkan air hujan, maka hanya dikenakan zakat sebesar 5% dari total hasil panen. Hal ini karena sawah tadah hujan mengeluarkan dana lebih sedikit daripada yang menggunakan sistem irigasi yang terkadang membutuhkan pompa air dan perawatan sungai atau selokan secara khusus.

Contoh:
Pak Jaya panen padi sebanyak 1 ton (1000 kg). Maka, pak jaya berkewajiban mengeluarkan zakat pertanian, karena telah mencapai satu nishab lebih. Cara penghitungannya adalah sebagai berikut:

  1. Sistem Pengairannya dengan Air Hujan.
    1000 x 10% = 100 kg. Jadi, pak Jaya wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 100 kg.
  2. Jika Sistem Pengairannya tanpa Air Hujan.
    1000 x 5% = 50 kg. Berarti pak jaya wajib mengeluarkan zakatnya sebanyak 50 kg.

D. Zakat Profesi

Dalam kitab-kitab fiqih klasik, zakat profesi memang tidak ada pembahasan secara tertulis. Namun, profesi bisa wajib zakat dan itu masuk katagori zakat tijarah (dagangan). Penjelasannya adalah: Dalam tijarah terbagi menjadi dua, yaitu tijarah dengan a’yaan (barang) dan tijarah dengan manfa’ah (manfaat). profesi termasuk dalam golongan tijarah dengan manfaat. Gambarannya kita menjual kemanfaatan yang ada pada kita. Karena zakat profesi termasuk katagori zakat tijarah, maka juga harus menetapi syarat-syarat tijarah (lihat kitab/buku yang berhubungan) dan juga disyaratkan hasil dari profesi itu diniati untuk berdagang.

Contoh:
Kita bekerja sebagai kuli bangunan dan hasil upahnya kita pergunakan untuk modal berdagang, maka kita wajib untuk mengeluarkan zakat. Wallahu A’lam.

Demikianlah artikel kami tentang masalah cara menghitung zakat mal dan profesi, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini agar menjadi referensi bagi teman-teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Klik untuk share:
Tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz